cerita ibuku

Saya punya pengalaman yang membuat saya sangat terinspirasi adalah usaha yang saya tempuh untuk mencapai sesuatu yang dapat membanggakan orangtua dan keluarga saya yang sampai sekarang masih saya lakukan sampai akhir hayat saya InsyaAllah. Saya tergolong anak yang tidak begitu mempunyai kelebihan. Disaat saya menjalani masa-masa saya menduduki bangku sekolah menengah atas. Banyak sekali yang memotivasi saya untuk berubah kearah kebaikan, melakukan yang  terbaik, tidak pernah menyerah dan masih banyak lagi. Saya melanjutkan sekolah disalah satu sekolah menengah atas yang lumayan terkemuka dan unggul didaerah saya dengan nilai ujian nasianal yang cukup lumayan memuaskan.  Padahal sejak saya dibangku sekolah dasar, saya sering tidak masuk sekolah karena sakit asma yang saya derita yang membuat saya tidak bisa mengikuti pekajaran dengan baik.  Saat kelas 1 SMA saya diberi kesempatan untuk menyicipi kelas unggulan.

Dikelas saya dikenal sebagai anak yang supel dan agak berisik. Saya adalah anak yang biasa saja, hanya sebatas bisa melakukan bukan seorang yang mahir seperti anak-anak lain dikelas saya. Banyak guru beranggapan saya hanya anak yang untung-untungan masuk SMA itu, saya terus berusaha dengan belajar dengan giat untuk menangkis anggapan-anggapan yang tidak semuanya benar baik dari guru yang mengajar maupun teman-teman.  Saya belajar dengan giat dan mengikuti les mata pelajaran yang kurang saya pahami sehingga saat dikelas saya dapat mengikuti pelajaran yang diberikan dengan baik. Dengan nilai yang lumayan memuaskan saya naik kelas dengan otak pas-pasan dan perilaku yang sedikit asal-asalan.

Dikelas 2 SMA, kelas unggulan ditiadakan jadi saya masuk kelas reguler. Disaat-saat kelas 2 SMA adalah saat-saat dimana saya ingin mencoba semua hal-hal yang baru yang belum pernah saya cicipi. Bebas bermain bersama teman-teman adalah hal yang paling sering dan suka saya lakukan. Disemester kelas 2 nilai saya lumayan bagus mungkin karena saya masih memperhatikan guru yang menjelaskan didepan kelas, walaupun anggapan-anggapan tidak enak dari guru-guru masih banyak. Disemester 2 kelas 2, nilai saya banyak yang turun karena agak sedikit kurang tahan dan stress dengan anggapan-anggapan tidak benar tersebut.

Tetapi dikelas 3 saya bertekat untuk berubah menjadi lebih baik. Nilai-nilai saya berangsur-angsur naik. Saya belajar dengan giat untuk siap dalam menghadapi ujian nasional dan tes masuk perguruan tinggi negeri. Dan disaat sedang getir-getirnya belajar, anggapan tidak benar itu makin menjadi. Saya bertekat untuk membuktikan pada mereka bahwa anggapan-anggapan buruk tentang saya seperti perilaku dan nilai saya buruk karena saya nakal yang mereka kira tidah benar. Lalu ujian nasional pun terlewati dengan lumayan lancar. Setelah ujian nasional usai, tes masuk perguruan-perguruan tinggi negeri berdatangan. Mulai dari SIMAK UI, SMUP, UMB dan SNMPTN saya ikuti. Dalam SIMAK UI, saya mendapatkan D3 akuntansi pilihan saya yang terakhir. Di SMUP dan UMB saya ditolak. Walaupun saya kecewa, sedih, dan kesal saya terus berusaha mendapatkan yang terbaik. Dan tibalah pengumuman SNMPTN, dan ternyata saya diterima di IPB dengan jurusan Agribisnis seperti yang saya inginkan. Banyak orang tidak percaya bahwa saya diterima IPB dengan jalur SNMPTN. Banyak yang memberi saya selamat atas keberhasilan saya membuktikan bahwa apa yang banyak orang bilang tidak benar. Bahkan guru-guru yang pada awalnya berpikiran buruk tentang saya salut atas kerja keras dan usaha yang saya lakukan.

Comments

ceritaku

Salah satu pengalaman yang sangat menginspirasi saya yang menyangkut kehidupan orang lain yang menyangkut kehidupan orang lain adalah kerja keras yang ibu saya lakukan. Sejak pemutusan hubungan kerja missal yang terjadi pada masa peralihan orde baru tahun 1998 ayah saya tidak bekerja lagi di perusahaan itu. Ayah menggantikan ibu menjaga anak dirumah, menjaga dan membersihkan rumah, mencuci dan memasak sebagaimana yang seharusny adalah tugas seorang ibu. Sementara ibu kerja keras membanting tulang memenuhi kebutuhan keluarga yang harus dibutuhi setiap harinya. Meski kadang ayah mendapat proyek atau kerjaan, tapi itu hanya sedikit  membantu malah kadang tidak membantu untuk mencukupi kehidupan hidup kami. Ibu saya tetap tekun bekerja pergi pagi setelah subuh berkumandang dan pulang setelah magrib menjelang isya.

Banyak hal yang ayah saya lakukan tapi malah membuat keuangan kami merosot biar hanya sedikit tapi ibu tetap memaafkan dan berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan kami. Kerja keras yang ibu saya lakukan telah menghasilkan banyak untuk keluarga tapi tak banyak yang tak berbekas. Tak sedikit yang lenyap oleh kakak dan ayah. Kakak saya adalah anak yang sedikit teledor, boros dan terkadang suka menyatut uang yang ibu berikan. Banyak barang yang ibu saya berikan padanya entah kemana atau rusak begitu saja. Kakak sangat suka menhambur-hamburkan uang dengan membelanjakannya sembarangan. Jika uang yang ibu berikan terkadang kurang dia suka berbohong supaya diberi uang lebih tapi ibu tetap memberikannya dan berusaha keras untuk memenuhinya.

Sekarang, dengan kerja keras banting tulang yang ibu lakukan kakak saya dapat melanjutkan di sekolah tinggi perhotelan dibandung dengan biaya yang tidak sedikit dan melakukan praktek kerja lapangan ke Negara tetangga, Malaysia dan membiayai saya melanjutkan ke institut pertanian terkemuka di bogor dan juga menghidupi kami berempat sekeluarga.

Saya sangat terkesan dengan kerja keras dan perjuangan yang ibu saya lakukan selama ini. Beliau adalah seorang yang pekerja keras yang tidak mudah menyerah dan juga orang yang sangat hemat. Dengan materi yang diberikan dari perusahaannya yang tidak banyak dia bisa menghidupi kami dan memberikan apa yang kakak dan saya inginkan, setidaknya memenuhinya biar terkadang dalam waktu yang tidak sebentar dan membuat saya dan kakak puas dan merasa senang. Saya ingin sekali mencontoh dan menjadi seperti beliau. Seorang yang bisa hemat, tidak mudah menyerah dan pekerja yang sangat keras yang sangat menginspirasi saya.

Comments